Banyak faktor risiko hipertensi sebenarnya dapat diubah, seperti pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan tingkat stres. Dengan memahami faktor-faktor ini sejak dini, remaja dapat mengambil peran aktif dalam menjaga tekanan darah tetap normal dan mencegah masalah kesehatan di masa depan.
Orang merokok bisa pada siapa saja seperti laki-laki, perempuan, remaja, kaya, miskin dan tidak ada terkecuali. Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat kimia yang terkandung dalam tembakau terutama nikotin yang dapat merangsang saraf simpatis sehingga memicu kerja jantung lebih cepat sehingga peredaran darah mengalir lebih cepat dan terjadi penyempitan pembuluh darah, serta peran karbon monoksida yang dapat menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa jantung memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Hubungan rokok dengan hipertensi yaitu nikotin yang menyebabkan peningkatan tekanan darah karena nikotin didalam rokok diserap pembuluh darah kecil dalam paru-paru sehingga diedarkan oleh pembuluh darah ke otak, otak akan beraksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal sehingga bisa melepas efinefrin (Adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah sehingga jantung dipaksa bekerja lebih berat dan menyebabkan tekanan darah lebih tinggi. Karbon monoksida dalam asap rokok menggantikan oksigen dalam darah. Hal ini mengakibatkan tekanan darah karena jantung dipaksa memompa untuk memasukan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh.
Bila mengkonsumsi makanan berlemak, maka didalam usus makanan tersebut akan diubah menjadi kolestrol. Kolestrol yang tinggi dapat menyebapkan terjadinya ateroklerosis yaitu suatu kondisi dimana kolestrol menumpuk di dinding pembuluh darah arteri. Pembentukan ateroklisis diawali dengan rusaknya pembuluh darah. Setelah pembuluh darah rusak, maka kolestrol yang dibawa LDL terperangkap pada dinding pembuluh darah tersebut dalam waktu bertahun-tahun maka terjadilah pembentukan plak sehingga pembuluh darah makin sempit dan elastisitasnya berkurang. Makanan yang mengandung lemak dapat menyebapkan penimbunan lemak disepanjang pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah ini menyebapkan aliran darah menjadi kurang lancar sehingga dapat menyebapkan penyumbatan yang berdampak terhadap ganguan suplai oksigen dan zat makanan ke organ tubuh. Penyempitan dan penyumbatan lemak ini memacu jantung untuk memompa darah lebih kuat lagi, agar dapat memasok kebutuhan darah ke jaringan. Akibatnya tekanan darah menjadi meningkat, maka terjadilah hipertensi.
American Society For Experimental membuktikan bahwa konsumsi garam dalam jumlah banyak dapat memperparah hipertensi. Hal ini terjadi karena saat tubuh mendapat asupan garam yang terus meningkat maka terjadi retensi cairan dalam tubuh sehingga volume darah menjadi meningkat. Pada saat volume darah meningkat maka jantung akan bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui arteri yang sempit sehingga tekanan semakin kuat dan terjadi hipertensi. Konsumsi Natrium yang tinggi menyebabkan pembengkakan dalam dinding arteriol, yaitu arteri-arteri kecil yang bertugas membawa darah yang mengandung oksigen tinggi ke bagian-bagian tubuh. Ketika dinding pembuluh mengalami pembengkakan maka hanya sedikit ruang yang dapat dilewati sehingga darah memaksa untuk masuk kedalam arteri yang menyempit tersebut dan terjadilah peningkatan tekanan darah.
Kurangnya aktivitas fisik memiliki hubungan yang erat dengan meningkatnya risiko hipertensi. Aktivitas fisik yang rendah membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga tekanan pada dinding pembuluh darah menjadi lebih tinggi. Selain itu, kurang bergerak dapat menyebabkan penumpukan lemak, peningkatan berat badan, serta menurunnya elastisitas pembuluh darah, yang semuanya berkontribusi terhadap kenaikan tekanan darah. Pada remaja, kebiasaan jarang berolahraga juga dapat memicu gangguan metabolisme, meningkatkan stres, dan mengurangi kebugaran jantung serta paru-paru. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko hipertensi sejak usia muda hingga dewasa. Oleh karena itu, melakukan aktivitas fisik secara teratur, seperti berjalan kaki, bersepeda, olahraga ringan, atau aktivitas aktif lainnya, sangat penting untuk membantu menjaga tekanan darah tetap normal dan mendukung kesehatan jantung.
Faktor lingkungan seperti stress berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan hipertensi, diduga melalui aktivitas saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat seseorang beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat seseorang tidak beraktivitas. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatan tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi dan selama terjadi rasa takut dan stress tekanan arteri sering kali meningkat sampai setinggi dua kali normal dalam waktu beberapa detik.
Hipertensi sering dikaitkan dengan status gizi seseorang karena seseorang yang memiliki berat badan berlebih cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dari mereka yang memiliki berat badan kurang. Salah satu faktor yang memicu timbulnya penyakit
hipertensi adalah status gizi yang berlebih atau obesitas. Hal ini disebabkan karena pada tubuh seseorang yang memiliki berat badan
berlebih terjadi peningkatan volume darah untuk mengantar oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. Hal ini membuat jantung bekerja lebih keras dari biasanya untuk memompa semua darah ke seluruh tubuh sehingga tekanan darah berangsur akan meningkat
Senyawa etanol dalam alkohol secara fisiologi nya dapat meningkatkan kadar kortisol apabila dikonsumsi, sehingga meningkatkan tekanan darah dalam arteri akibatnya jantung lebih kuat memompa darah untuk dialirkan keseluruh tubuh, kemudian pembuluh darah menjadi kaku dan menyempit sehingga tidak bisa mengembang atau terjadi istilah vasokontriksi yaitu kondisi arteri menjadi mengkerut karena adanya rangsangan saraf. Efek samping dari alkohol hampir sama dengan karbon monoksida, yaitu dapat meningkatkan keasaman darah. Darah akan menjadi kental sehingga jantung akan dipaksa bekerja lebih kuat lagi agar darah mensuplai ke jaringan. Konsumsi alkohol berbanding lurus dengan kejadian hipertensi yaitu semakin banyak alkohol yang diminum, maka semakin tinggi pula tekanan darah peminumnya.
Pengetahuan menjadi kebutuhan mendasar dalam upaya meningkatkan perilaku pencegahan hipertensi, kurangnya pengetahuan tentang cara mencegah hipertensi dapat mempengaruhi sikap dalam pencegahan hipertensi yang diakibatkan oleh perubahan gaya hidup, mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak, merokok serta cemas secara berlebihan. Pengetahuan tentang penyakit hipertensi memiliki kaitan yang signifikan dengan kejadian hipertensi. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan mengenai penyakit hipertensi yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kondisi tersebut.
Itulah penjelasan tentang faktor risiko hipertensi yang dapat diubah. Melalui kebiasaan sederhana seperti aktif bergerak, memilih makanan yang lebih sehat, mengelola stres, serta menghindari rokok dan alkohol, remaja sudah bisa berperan dalam mencegah hipertensi sejak dini. Ingat, perubahan kecil yang dilakukan sekarang akan membawa dampak besar bagi kesehatan di masa depan.