Definisi Hipertensi

 

Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara abnormal dan terus menerus pada beberapa kali pemeriksaan. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik melebihi batas normal (≥140/ 90 mmHg)World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi medis serius yang secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung, otak, ginjal, dan penyakit lainnya.

Bagaimana Hipertensi Bisa Terjadi?

Angka Kejadian Hipertensi Pada Remaja

Studi yang dilakukan oleh National Health and Nutrition Examination Survey menunjukkan bahwa 1 dari 10 anak dengan rentang usia 8-17 tahun telah memiliki riwayat prehipertensi atau hipertensi. Beberapa penelitian lain yang dilakukan juga menemukan prevalensi hipertensi pada remaja cukup tinggi, seperti di India dengan prevalensi sebesar 25,1% pada remaja usia > 13 tahun dan di China prevalensi prehipertensi remaja sebesar 21,1% dan prevalensi hipertensi sebesar 18,6%. Ditemukan juga fenomena hipertensi pada remaja di Indonesia, dimana data Riskedas 2013 menemukan prevalensi hipertensi sebesar 5,3% di rentang umur remaja 15-17 tahun dengan sebesar 6% nya adalah laki-laki dan 4,7% nya terjadi pada perempuan. Data Riskedas 2018 juga menemukan besaran prevalensi hipertensi di umur 18 tahun adalah 35,1% di tahun 2021. 

Data dari Profil Kesehatan Provinsi Bali Tahun 2024, penderita hipertensi di Bali pada usia ≥ 15 tahun terjadi 197.629 (49,78%) kasus hipertensi pada laki-laki dan 199.367 (50,22%) pada perempuan (Anom, 2024). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupatan 5 Tabanan, penderita Hipertensi di Kabupaten Tabanan pada tahun 2025 berjumlah 30.817 dengan persentase 68,7%, data tersebut merupakan data penderita hipertensi dari bulan Januari sampai Agustus 2025. Adapuan jumlah penderita hipertensi di Kecamatan Pupuan sebanyak 1.229 penderita di Puskesmas Pupuan I dan 1.122 penderita di Puskesmas Pupuan II. Berdasarkan data dari Puskesmas Pupuan I sebanyak 16 remaja dengan rentang usia 12 – 18 Tahun mengalami pre-hipertensi dan hipertensi di tahun 2025.

Faktor Risiko Hipertensi

Ada banyak faktor penyebab hipertensi. Faktor - faktor tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu, faktor risiko yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Ayo kita bahas satu persatu, klik salah satu gambar yaaa.

Tanda dan gejala

Hipertensi sering kali terjadi tanpa adanya tanda dan gejala yang menyartai. Sehingga Hipertensi dijuluki "The Silent Killer" karena dapat menyebabkan kematian tanpa adanya tanda dan gejala. Banyak individu yang tidak menyadari bahwa dirinya terlah menderita hipertensi. Namun ada beberapa gejala yang biasanya muncul saat Hipertensi terjadi diantaranya adalah sebagai berikut:

pusing atau sakit kepala

mudah marah

telinga berdengung

suka tidur

sesak napas

berat pada tengkuk

mudah lelah

mata berkunang-kunang

Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC VIII. Menurut The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VIII) untuk usia ≥18 tahun.

Klasifikasi tekanan darah

Tekanan darah sistolik (mmHg)

Tekanan darah diastolic (mmHg)

Normal

<120

<80

Prehipertensi

120-139

80-90

Hipertensi derajat I

140-159

90-99

Hipertensi derajat II

>160

>100

Klasifikasi Hipertensi Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Klasifikasi

TD Sistolik (mmHg)

TD Diastolik (mmHg)

Optimal

>120

<80

Normal

120 – 129

80 – 84

Normal Tinggi

130 – 139

85 – 89

Hipertensi derajat 1

140 – 159

90 – 99

Hipertensi derajat 2

160 – 179

100 – 109

Hipertensi derajat 3

≥180

≥110

Hipertensi sistolik terisolasi

≥140

<90

Komplikasi Hipertensi

1. Stroke

Hipertensi adalah penyebab utama stroke, baik ischemic maupun hemorrhagic, karena meningkatkan tekanan darah perifer dan mengganggu sistem hemodinamik, menyebabkan penebalan pembuluh darah dan hipertrofi otot jantung. Faktor risiko hipertensi lainnya termasuk kebiasaan merokok, konsumsi makanan tinggi lemak dan garam, yang dapat menyebabkan aterosklerosis, yang pada gilirannya dapat menyebabkan stroke. Gumpalan darah menghambat aliran darah ke pembuluh darah, menghambat pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan otak, menyebabkan stroke. Salah satu gejalanya adalah kelemahan tiba-tiba pada wajah, lengan atau kaki, biasanya terjadi pada satu sisi tubuh. Gejala lainnya seperti kesulitan berbicara, mengalami kebingungan, sulit berjalan, kesulitan melihat menggunakan satu atau kedua mata sekaligus, kehilangan keseimbangan, pusing, dan sakit kepala yang parah tanpa diketahui penyebabnya hingga tidak sadarkan diri. Stroke yang tidak ditangani dengan benar bahkan dapat menyebabkan kematian  

2. Gagal Ginjal

Jika hipertensi dibiarkan tanpa pengobatan, dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan menyebabkan hipertensi yang lebih parah, sehingga menimbulkan komplikasi yang lain. Selain itu, penyakit ginjal yang tidak diobati juga dapat menyebabkan hipertensi menjadi menetap, yang memperparah kerusakan ginjal. Ini menunjukkan hubungan antara hipertensi dan kerusakan ginjal. Gagal ginjal adalah kondisi di mana ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik, baik secara akut (mendadak) maupun kronis (menurun secara bertahap)Kondisi ini menyebabkan limbah dan kelebihan cairan menumpuk di dalam tubuh karena ginjal tidak dapat menyaring darah secara efektif. Hipertensi dan gagal ginjal memiliki hubungan timbal balik yang erat: tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah di ginjal, mengganggu fungsinya menyaring limbah, dan menyebabkan gagal ginjal. Sebaliknya, penyakit ginjal kronis juga dapat meningkatkan tekanan darah, menciptakan lingkaran setan antara kedua kondisi ini. 

3. Infark Miokard

Infark miokard, atau serangan jantung, adalah kondisi medis darurat yang terjadi ketika aliran darah ke sebagian otot jantung terhambat, biasanya karena penyumbatan di arteri koronerPenyumbatan ini membuat otot jantung kekurangan oksigen dan nutrisi, yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan otot jantung. Hipertensi sangat erat kaitannya dengan infark miokard karena meningkatkan risiko terjadinya infark miokard. Hal ini terjadi karena tekanan darah tinggi memaksa jantung bekerja lebih keras, yang dapat menyebabkan penebalan dan pelebaran otot jantung dari waktu ke waktu, serta meningkatkan risiko penyempitan pembuluh darah dan plak. Penderita hipertensi memiliki risiko mengalami infark miokard hingga 2,5 hingga 5,2 kali lebih besar dibandingkan orang tanpa riwayat hipertensi. 

4. Gagal Jantung

Gagal jantung adalah kondisi kronis di mana jantung tidak dapat memompa darah dengan cukup ke seluruh tubuh, yang mengakibatkan organ-organ tidak menerima cukup oksigen dan nutrisiGejalanya meliputi sesak napas, batuk, pembengkakan di kaki atau perut, dan kelelahan.Salah satu indikator penting yang menunjukkan gagal jantung adalah tekanan darah. Pasien dengan tekanan darah tinggi mengalami beban jantung yang lebih besar, sedangkan pasien dengan tekanan darah rendah menunjukkan kegagalan kerja jantung. Hipertrofi ventrikel kiri adalah langkah pertama menuju transisi dari hipertensi ke gagal jantung. Jika hipertrofi sudah di atas batas fisiologis untuk meningkatkan kontraksi jantung, kontraksi jantung akan melemah, seiring dengan peningkatan kebutuhan oksigen otot jantung karena massa otot jantung meningkat. Gagal jantung terjadi karena peningkatan kerja jantung, meskipun respon kompesatorik sirkulasi pada awalnya membantu mempertahankan curah jantung. Hipertensi berhubungan erat dengan gagal jantung karena tekanan darah tinggi yang kronis memberi beban kerja berlebih pada jantung, menyebabkan otot jantung menebal dan kehilangan elastisitasnya seiring waktuKondisi ini memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah, yang akhirnya melemahkan kemampuannya untuk memompa secara efisien, sebuah kondisi yang disebut gagal jantung. 

5. Gangguan Penglihatan

Hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik dapat berdampak pada bagian tubuh lainnya, salah satunya mata. Koroidopati, neuropati optik dan retinopati adalah contoh kerusakan organ target mata akibat hipertensi. Hipertensi berhubungan dengan gangguan penglihatan karena tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di mata, termasuk di retina, yang menyebabkan kondisi seperti retinopati hipertensi. Hal ini dapat mengakibatkan penglihatan kabur, bintik-bintik hitam, pendarahan pada mata, hingga kebutaan jika tidak ditangani dengan serius. Hipertensi juga dapat meningkatkan risiko glaukoma melalui peningkatan tekanan dalam bola mata. American Academy of Ophthalmology (2024) menyebutkan penyakit di pembuluh darah retina, termasuk oklusi arteri vena atau cabang, oklusi arteri retina sentral dan cabang, dan makroaneurisma arteri retina, dapat disebabkan oleh hipertensi. Efek akut dari hipertensi sistemik, yang disebabkan oleh vasospasme yang mengatur autoregulasi perfusi, disebut sebagai retinopati hipertensi. Efek kronis dari hipertensi adalah akibat dari aterosklerosis, yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan karena oklusi pembuluh darah atau makroaneurisma

Masih belum paham dengan informasi di atas? Coba simak video berikut

Hola Teens!

Beaty punya misi nih buat kamu. Ada game edukasi yang harus dikerjakan!

Ayo bantu Beaty menyelesaikannya